Kamis, 15 Mei 2014 - 10:25:02 WIB
Prabowo Dinilai Lebih Moncer Ketimbang Jokowi Kategori: Nasional - Dibaca: 642 kali


Baca Juga:Ribuan Umat Budha Sambangi BorobudurWings Air di Bandara Kendari Gagal TerbangKehilangan Krimea, Ukraina Alami Kerugian 15 Artis Lolos ke DPR-RI

JAKARTA-Joko Widodo tidak mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dia hanya mengambil cuti panjang untuk mengikuti proses kampanye pemilihan presiden pada Juli mendatang.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teguh Santosa menilai meski tidak melanggar aturan, namun keputusan Jokowi itu sebagai sebuah langkah yang kurang tepat. Seharusnya Jokowi bisa mencontoh langkah yang diambil Hatta Rajasa, yang memilih mundur dari jabatannya sebagai Menteri Koordinasi Perekonomian.

Menurutnya, langkah Hatta lebih dapat menarik simpati, yang akan membawa keuntungan bagi pasangan Prabowo-Hatta. Selain itu, keputusan Jokowi untuk tidak melepaskan kursi Gubernur DKI, bisa membuat publik mempertanyakan keseriusan langkah politik mantan Wali Kota Solo itu.

"Apalagi popularitas Prabowo terus naik. Nah, Jokowi perlu juga memikirkan wacana mundur sebagai Gubernur DKI," kata Teguh kepada INILAHCOM, Rabu (14/5/2014).

Suka atau tidak, lanjut Teguh, keputusan Hatta Radjasa mundur sebagai Menko Perekonomian, langkah maju dan cerdas. Alhasil, citra duet Prabowo-Hatta semakin menyundul langit. "Ini harus diimbangi," ucapnya.

Seperti diketahui, Hatta Rajasa memilih mundur dari kursi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Djilid II, karena menjadi cawapres Prabowo. Sementara Jokowi dipastikan tidak akan mundur dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jokowi akan resmi cuti sebagai gubernur sejak 14 Mei kemarin.

Sebelumnya Jokowi mengatakan alasannya tidak mundur sebagai gubernur, karena sulitnya prosedur yang harus ia tempuh.

"Ini kan masalah politik. Kalau saya maunya mundur saja, lebih jelas. Tapi konstitusi undang-undang itu ada dua opsi yang harus dipilih. Berarti ini lebih karena tidak memungkinkan," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Rabu (14/5/2014).

Jokowi menuturkan, salah satu pertimbangannya mengajukan cuti panjang adalah hitungan politik. Sebab, jika langsung mundur dikhawatirkan menimbulkan polemik dan pertentangan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dia menganggap masalah politik itu tidak bisa diprediksi.

"Lihat politiknya dong, masak kamu tidak punya hitung-hitungan politik. Kamu harus mengerti hitung-hitungan politik. Kalau saya sih maunya mundur saja," tandasnya. Bar/Inl


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.