Kamis, 13 Maret 2014 - 17:42:06 WIB
Bandara Buleleng Akan Timbulkan Gagap BudayaKategori: Wisata - Dibaca: 719 kali


Baca Juga:Jadwal Kampanye Terbuka 2014Kuasa Hukum Atut DiperiksaPopularitas Dahlan Iskan Tertinggi di Konvensi PDKetat di Nomor Putri BSI Proliga 2014

BALI-Kehadiran Bandara Internasional Buleleng dinilai akan menimbulkan gagap budaya. Perlu dilakukan berbagai persiapan sebelum bandara itu dibangun di Bali Utara.

"Kehadiran Bandara Internasional Buleleng sudah pasti akan menimbulkan culture shock atau gagap budaya. Jika kita tidak mempersiapkan secara komperehensif baik itu software, hard ware, maupun man ware," ujar ahli infrastruktur asal Bali, AA Putu Ngurah Wirawan, di Denpasar, Kamis (13/3/2014).

Menurut pria yang sudah berpengalaman membangun banyak infrastruktur berat di dalam dan luar negeri ini, mulai bandara, jalur kereta api, hingga transportasi perkotaan, penyapaian hardware dan software sudah dalam bentuk paket-paket referensi yang dimiliki oleh pemerintah dan para profesional.

"Untuk penyiapan man ware, tidak terbatas pada kesiapan para pelaku kebandaraan saja, tapi juga perlu dipersiapkan masyarakat sekitar bandara internasional dan masyarakat sekitar aero city (kota baru sekitar bandara) dan masyarakat Buleleng pada umumnya," jelas Ngurah Wirawan yang juga calon DPD Bali 2014-2019 itu.

Bagi Ngurah Wirawan, kesiapan masyarakat dalam menerima bandara internasional baru di wilayah Buleleng sangat penting, agar saat beroperasional, masyarakat betul-betul siap menerima kehadiran bandara bertaraf internasional di wilayahnya.

"Jangan sampai seperti Bandara Internasional Lombok. Bandara sudah selesai dibangun, namun masyarakat setempat belum siap dengan kehadiran bandara baru tersebut. Akibatnya terjadi gagap budaya di bandara tersebut. Masyarakat sekitar banyak yang belum mengerti berbagai aturan yang harus ditaati jika ada dalam lingkungan bandara," ucapnya.

Sebelum Bandara Buleleng dibangun, Ngurah Wirawan memandang perlu berbagai pelatihan agar pada saat bandara internasional siap dioperasikan, pekerja bandara tidak dimonopoli oleh orang-orang dari luar Buleleng.

"Demikian juga dengan peluang bisnis yang ada, seperti bidang pariwisata, transportasi, perdagangan kecil menengah dan sebagainya, harus merupakan lapangan kerja yang dikuasai oleh rakyat Buleleng," tandasnya. Lia/Inl


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.