Rabu, 18 September 2019 - 17:36:55 WIB
KRI Tanjung Kambani 971 Gelar Ritual Khatulistiwa Kategori: Laporan Khusus - Dibaca: 38 kali


Baca Juga:

JAKARTA-KRI Tanjung Kambani 971 menggelar ritual mandi khatulistiwa untuk peserta kontingen Pelayaran Lingkar Nusantara 9 Sail Nias 2019 di atas dek heli KRI tersebut pada Senin (16/9) pagi.

Ritual tersebut diikuti oleh sebagian besar peserta kontingen Pelantara 9 yang terdiri dari kontingen Bela Negara, kontingen Kapal Pemuda Nusantara (KPN) dan Saka Bahari.

Mandi Khatulistiwa merupakan sebuah ritual wajib yang sudah menjadi tradisi dalam KRI seluruh Indonesia termasuk KRI Tanjung Kambani 971.

Ritual ini wajib diikuti oleh semua personil Angkatan Laut dan juga oleh penumpang biasa yang menggunakan jasa KRI dalam jumlah besar seperti yang terjadi dalam Pelantara 9 kali ini.

Menurut pendamping Saka Bahari asal Surabaya, Kapten Laut (P) M. Syaiful Ali, ritual ini merupakan sebuah tradisi yang dipraktekan oleh TNI Angkatan Laut saat melintasi garis khatulistiwa pada posisi 0 derajad.

“Tradisi ini wajib diikuti oleh semua personil TNI AL yang menggunakan KRI dan melintasi khatulistiwa pada posisi 0 derajad. Juga dilakukan oleh penumpang biasa yang berlayar dalam rombongan besar seperti Pelantara 9 tahun ini yang kebetulan menggunakan KRI Tanjung Kambani 971,”  jelas Ali, saat berbincang singkat dengan Inakoran.com/Ina TV di buritan KRI Tanjung Kambani 971, Selasa (17/9) jelang magib.

Bagi sebagian besar peserta Pelantara 9, istilah itu terdengar asing. Maklum, mandi khatulistiwa merupakan tradisi khas TNI Angkatan Laut.

Tambahn pula, sebagian besar peserta pelantara 9 belum pernah mendengar tradisi itu saat datang dari daerah mereka masing-masing.

Ritual itu dipimpin langsung oleh Konandan Satuan Tugas (Dansatgas) Pelantara 9, Kolonel Marinir I Dewa Gede Wirawan, S.E. Turut hadir dalam ritual itu adalah Komandan Satgas Bela Negara Kolonel Luhkito Hadi, Wadansatgas Bela Negara Letkol Rudi Setiawan, Wadansatgas Pelantara 9 Sail Nias 2019 Letkol Marinir Riyadi, Wandansatgas KPN Drs. Safril, serta sejumlah personil KRI Tanjung Kambani 971 lainnya.

 

Alur ritual diawal dengan skenario kedatangan Kapten Davy Jones, Dewa Neptunus dan Dewi Amfrite dari dasar laut yang dipercaya sebagai penguasa lautan atau samudera.

Kedatangan ketiga penguasa samudera itu disambut meriah oleh para kontingen Pelantara 9 yang sebelumnya sudah menunggu di atas deck heli KRI Tanjung Kambani 971.

Tidak lama kemudian, para pelantara konon mendapatkan suguhan jamu yang dibawah penguasa laut. Jamu itu berupa siraman air suci yang diambil dari 7 samudera sebagai tanda bahwa mereka telah melewati Khatulistiwa.

Siraman air suci itu dipercaya sebagai simbol atau tanda bahwa para peserta yang berlayar dalam KRI Tanjung Kambani 971 itu sudah dinyatakan bersih atau suci.

Meski airnya dingin dan kotor, namun nampak para peserta sangat menikmati ritual itu. Hal itu, paling tidak nampak dari teriakan dan canda tawa yang terpancar dari wajah peserta mandi khatulsitiwa pagi kemarin.

Ritual mandi khatulistiwa tanggal 16 Septemeber kemarin diakhiri dengan sesi foto bersama dan menjadi kegiatan yang memiliki makna istimewa bagi para peserta Pelantara 9 tahun ini, sebab ritual itu mungkin hanya dialami sekali dalam hidup mereka. Jok

 

 


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.