Rabu, 26 Juni 2019 - 12:37:21 WIB
Suryadi: KONI Butuh Sosok Pemimpin yang Mengerti Filosofi OlahragaKategori: Olahraga - Dibaca: 75 kali


Baca Juga:

JAKARTA-Ketua Umum Komisi Nasional Atlet & Pelatih Indonesia (Komnas Api) Suryadi Gunawan, mengatakan KONI Pusat ke depan butuh sosok pemimpin yang mengerti dan paham filosofi olahraga. Filosofi olahraga yang dimaksud Suryadi adalah memiliki jiwa sportif dan menjungjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Hal itu dikatakan Suryadi Gunawan saat menyambangi kantor Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Pusat di Lantai 8 KONI Pusat Senayan Jakarta, kemarin, menanggapi sosok pemimpin KONI ke depan yang akan dipilih dalam Musornas 2 Juli mendatag.

”Bagi saya sebagai mantan atlet, pelatih dan hingga menjadi pengurus, siapa pun yang terpilih menjadi Ketua Umum KONI Pusat ke depan harus mengedepankan kepentingan atlet. Jangan atlet hanya dijadikan objek sementara pengurus lebih mementingkan dirinya sendiri,” kata mantan atlet gulat nasional era 1980-an hingga 1990-an itu.

Dengan sosok pemimpin olahraga yang tidak tahu folosofi olahraga, menurut Suryadi, membuat prestasi olahraga Indonesia tidak berkembang alias jalan di tempat. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini ia menilai prestasi olahraga Indonesia cenderung menurun tajam.

Di SEA Games saja Indonesia sudah terseok-seok apalagi bisa ke level dunia. Di Asian Games 2018 lalu Jakarta-Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia memang sukses menembus posisi empat besar dengan raihan 31 medali emas.

Namun Suryadi menyebut sukses merebut 31 medali emas itu tak bisa diklaim sebagai keberhasilan pembinaan olahraga nasional secara menyeluruh.”Jujur saja, hasil 31 medali emas itu kan tertolong oleh sumbangsih cabang olahraga pencak silat yang menyumbang 14 medali emas, sementara cabang olahraga Olimpiade, sangat minim. Bahkan kita sudah tertinggal jauh dari negara tetangga di Asean seperti Singapura, Thailand dan Vietnam,”papar pria yang menetap di Samarinda, Kaltim ini.

Suryadi lebih jauh mengatakan, jika hasil Asian Games 2018 dibangga-banggakan maka sudah semestinya harus dibuktikan peningkatan prestasi itu di SEA Games 2019 Filipina, Olimpiade 2020 Tokyo dan Asian Games berikutnya 2022 di Hainan, Cina.

Untuk SEA Games 2019 meski bukan mengejar target juara umum, cabang olahraga Olimpiade harus mampu menunjukkan taringnya. Bagaimana mungkin bisa bicara di Asia dan Olimpiade kalau di tingkat SEA Games saja keropos.

Begitu juga halnya dengan Asian Games 2022 di mana pencak silat dipastikan tak akan dimainkan. Indonesia harus membuktikan mampu mempertahankan posisi yang dicapai di Asian Games sebelumnya (2018).

Sementara untuk menuju Olimpiade 2020 Tokyo, Indonesia dituntut harus mampu meloloskan cabang olahraga sebanyak mungkin dan memunculkan atlet di luar bulutangkis, angkat besi dan panahan untuk meraih medali.

”Namun dengan melihat sistim pengelolaan olahraga kita seperti sekarang ini saya pesimis dan tak yakin prestasi akan melonjak tajam. Ada dua persoalan pokok yang selama ini menjadi kendala dalam pembinaan olahraga Indonesia, pertama adalah program tidak jelas dan kedua sumber daya manusia (SDM) yang mengelola juga tak jelas kualitasnya. Akibatnya output dari pembinaan itu juga buruk,” papar Suryadi.

Nah untuk membenahi itu semua seperti dikatakan Suryadi, KONI Pusat sebagai perpanjangan tangan pemerintah menangani pembinaan olahraga prestasi harus dipimpin oleh sosok yang kuat dan berwibawa.

Dalam dua periode kepemimpinan Tono Suratman di KONI Pusat, Suryadi menilai terjadi kehilangan roh dan kepercayaan dari masyarakat. Pasalnya KONI tidak dikelola secara terbuka baik dalam manajemen penggunaan anggaran maupun penerapan program.

”Jujur saja, masih banyak yang mau membantu pendanaan melalui sponsor tetapi para sponsor tersebut kehilangan kepercayaan kepada KONI Pusat. Nah ke depan, hal seperti itu jangan sampai terjadi lagi,” tambah pria asal Samarinda, Kaltim. Jok


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.