Minggu, 16 Desember 2018 - 20:39:12 WIB
Setelah RW 12, Giliran RW 14 Penjaringan Digeruduk Calon Pedagang CulinaryKategori: Ibu Kota - Dibaca: 18 kali


Baca Juga:

PENJARINGAN-Setelah menggeruduk RW 12 Penjaringan , Calon Pedagang Pluit Culinary Park Sabtu, (15/12) mendatangi Ketua RW 14 Penjaringan. Kedatangan kelompok masyarakat UMKM yang berjumlah sekitar 30 orang itu dipimpin oleh Purwanto. Kelompok masyarakat UMKM itu menggeruduk tempat usaha milik Ketua RW 14, Riky Rumah Makan Bakmi Abadi di Jalan Pluit Karang Timur Muara Karang Jakarta Utara.

Kedatangan kelompok UMKM ini cukup mengejutkan pihak pengelola Rumah Makan Mie Abadi.Sempat terjadi adu mulut antara pengunjung Rumah Makan dengan pihak UMKM.Pengunjung tersebut merasa terganggu dengan kehadiran calon pedagang Kuliner tersebut. Namun suasana itu tidak berlangsung lama dan ketua RW 14 mengajak dialog warga UMKM diluar Restoran.Purwanto, perwakilan dari UMKM mempertanyakan kewenangan ketua RW 12 dan RW 14 yang menghentikan proyek pembangunan Pluit Culinary Park tersebut.

"Tidak bisa seorang RW menghentikan proyek yang sudah mendapat izin dan wewenang Anda apa?," tanya Purwanto. Menurutnya Proyek pembangunan Pluit Culinary Park milik jakpro ini, sudah mendapat izin IMB jadi tidak perlu diperdebatkan. "Terus terang dengan bapak menghentikan pembangunan ini secara sepihak kami merasa terganggu, kok seorang Ketua RW bisa menghentikan pembangunan proyek ini, "tanya Purwanto lagi.

Dalam kesempatan tersebut Riky Ketua RW 14 membantah telah melakukan tindakan penghentian pembangunan proyek Pluit Culinary tersebut. "tidak ada,kami setuju saja agar pengelolaan perparkiran berjalan baik dan tidak semerawut. "Lho kalau gitu anggota dewan bersama RW 12 dan RW 14 sidak ke lokasi atas inisiatif siapa? Atau kurang kerjaan," ujar salah satu peserta UMKM.

Purwanto menjelaskan, pembangunan ini diatas lahan 2,5 hektar ini baru dimulai sudah ada ketua RW yg selalu mengatasnamakan Warga. "Entah Warga yg mana kalian maksud?  Padahal warga di sini antusias mendukung yang justru merasa terganggu oleh kesemerawutan kewenangan Rw yg merasa paling berkuasa dan bs diatur pelanggarannya dgn biaya pungli,contoh utk pemasangan kanofi sampai kedepan jalan saja kena Rp 20 juta, belum lagi biaya bulanan," ujar Hasyim, Ketua Pakuyuban Pemulung yg pernah berbisnis sebelumnya di lokasi tersebut.

"Ini bangun aja belum sudah banyak ngoceh. Kalau Anda mau lihat gambar ada di kantor kecamatan. Lagi pula masalah perparkiran semerawut justru saat ini lebih semerawut. Coba lihat kaki lima ini bapak buat dapur, dan semua got dicor habis dan kanopi dibangun sampai pinggir jalan. Mobil mau di parkir di mana? Apakah ini tidak melanggar," tambahnya.

Ketua RW 14 Riky tidak menampik ada tudingan adanya pelanggaran yang dilakukannya. Bahkan ia mengakui kesalahan tersebut."Ya saya akui itu ," ujar ketua Rw 14 Riky.

"Nah, kalau begitu sepanjang jalan ini banyak pelanggaran, jadi Pak RW bs bongkar sendiri atau oleh aparat atau kami yg bongkar?," tuturnya.

Perwakilan UMKM lainnya juga mempertanyakan tentang beredarnya foto kegiatan proyek pembangunan Culinary di kalangan anggota DPRD. Ada dugaan pemotretan itu dilakukan atas perintah Ketua RW 12. Namun hal ini dibantah oleh pihak kepala security RW 12. "Kegiatan kami ini legal yg acara syukuran dimulainya pembangunan dan pemotongan tumpeng saja oleh pak Camat dan Lurah. sebaiknya, Ketua RW 12 dan 14 mengakui perbuatannya agar tidak menjadi polemik dan bumerang buat ketua RW," ujar Purwanto.

"Kami mengharapkan Ketua RW 12 dan RW 14 tidak perlu arogan dan tidak mengadu domba antara anggota dewan, dengan Jakpro dan kami. Kalau anda tidak menciptakan suasana kondusif maka kami juga akan lebih tidak kondusif," tegtas Purwanto. Jok


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.