Menurut seorang saksi, Razan al-Najjar tewas setelah para tentara Israel memberondongnya degan tembakan dekat pagar batas pada Jumat.Para pekerja kesehatan mengenakan seragamnya yang serba putih berjalan kaki pada prosesi pemakaman Razan al-Najjar, mereka memegang bendera Palestina dan foto wajah Najjar.

Ayahnya berjalan memegang rompi medis sang putri yang sebelumnya berwarna putih bersih namun kini sudah ternoda merah oleh darah Razan.

Lebih dari 115 orang sudah terbunuh sejak dimulainya protes di perbatasan pada akhir Maret, namun Razan al-Najjar adalah wanita kedua yang meninggal. Yang pertama meninggal adalah seorang remaja yang turut berunjuk rasa.

Foto-foto adegan sesaat setelah Najjar ditembak menunjukkan sekelompok pria membopong sang relawan yang masih mengenakan seragam putihnya, kepalanya mendongak ke belakang dan tangannya yang masih mengenakan sarung tangan terkulai di pundak-pundak pembopong.

Saksi mengatakan dia ditembak di dada.

Pada Sabtu, militer Israel mengatakan akan menyelidiki kematiannya namun mengatakan pasukannya sudah bekerja “sesuai dengan prosedur operasi standar”.

“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) terus berupaya belajar dari operasinya dan mengurangi jumlah korban di wilayah pagar keamanan Jalur Gaza,” kata militer dalam sebuah pernyataan yang dilansir Washington Post.

“Sayangnya, organisasi teror Hamas dengan sengaja dan metodis menempatkan warga sipil dalam bahaya.”

Bulan lalu, New York Times mewawancarai Razan al-Najjar di Gaza. Dia adalah satu-satunya petugas medis wanita yang menangani keadaan darurat medis selama protes yang diselenggarakan oleh Hamas, kelompok militan yang mengontrol Gaza.

“Kami punya satu tujuan-untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang-orang,” katanya dalam video.

“Dan mengirim pesan ke dunia: Tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja.”

Setelah kematiannya, seorang pekerja ambulans sukarela, Izzat Shatat, mengatakan kepada Associated Press bahwa dia dan Najjar berencana untuk mengumumkan pertunangan mereka pada akhir Ramadhan.

Hamas menyebut protes pada musim semi itu sebagai “Great March of Return”.

Demonstrasi itu dimaksudkan untuk membeberkan adanya blokade Israel-Mesir di Gaza, dan juga menyerukan “hak untuk kembali” bagi pengungsi Palestina yang terlantar selama perang tahun 1948.

Seperti dilansir dari Antarada tanggal 14 Mei, hari yang sama Amerika Serikat membuka kedutaan baru kontroversial di Yerusalem, puluhan ribu warga Palestina berdemonstrasi di Jalur Gaza.

Setelah kematian Najjar di ruang operasi pada hari Jumat, Nickolay Mladenov, utusan Timur Tengah AS, mencuit bahwa “#Israel perlu mengkalibrasi penggunaan kekuatan dan Hamas perlu untuk mencegah insiden di pagar perbatasan. Eskalasi hanya akan menelan lebih banyak korban jiwa.”

“Tenaga medis #BukanSasaranTembak!” Tulisnya.

Dalam wawancaranya dengan New York Times, Najjar mengatakan bahwa Gaza membutuhkan lebih banyak dokter wanita seperti dirinya.

“Kekuatan yang saya tunjukkan sebagai responden pertama pada hari pertama protes, saya menantang Anda untuk menemukannya orang lain,” katanya. Nur