Selasa, 06 Februari 2018 - 14:24:26 WIB
Meski Kalah, Tenis Indonesia Kembali Bergairah Kategori: Laporan Khusus - Dibaca: 31 kali


Baca Juga:Pemborosan PGN dan PPA dalam Sorotan DahlanKisruh Arema Berimbas ke Gajayana Indonesia Borong Pesawat (Buatan Sendiri Kena Hujat) Munarman: Yang Benci FPI= Suka Maksiat dan Korupsi

JAKARTA  -  Ada yang menarik dari perhelatan tenis ketika Tim Davis Indonesia melawan Filipina di pentas Piala Davis Grup II Asia/Oceania yang digelar di Stadion Tenis, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, pekan lalu. Bukan karena Indonesia takluk dari Filipina 1-4. Bukan pula karena Indonesia kalah. Bukan sama sekali!

Yang menarik adalah kehadiran penonton yang datang berbondong-bondong ingin melihat para petenis Indonesia bertarung melawan para petenis Filipina. Tatkala M Althaf Dhaifullah, David Agung Susanto, Justin Barki,  dan Anthony Susanto berlaga melawan para petenis Filipina:  Alberto Lim ,Jeson Petrombon, Alcantara, Jurence Zosimo Mendoza dan John Bryan Decasa Otico, penonton berdecak kagum.

Indonesia memang kalah, tapi penonton puas karena disuguhi permainan dan semangat pantang menyerah dari para pemain Indonesia. Apalagi, saat  David Agung Susanto mampu menyamakan keadaan 1-1, berkat kemenangan yang diraih atas Jeson Patrombon 6-2, 7-5.

Artinya, asa Indonesia kembali terbuka setelah sebelumnya tunggal pertama Indonesia  M Althaf Dhaifullah kalah dari Alberto Lim 3-, 2-6. Tatkala David Agung Susanto bertanding di lapangan hampir seluruh penonton berdecak kagum ketika David sukses meraih poin. Sebaliknya, ketika kehilangan poin, penonton sedikit kecewa dengan merengut sambil meneriakkan: “Ayo David kamu bisa. Ayo Vid rebut kembali. Semangat Vid.”  Itulah kira-kira suara lantang yang memadati Stadion Tenis Outdoor di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta.

Secara keseluruhan penonton yang hadir pun diperkirakan mencapai 1.800 pasang mata. Sebuah catatan penting bisa menghadirkan penonton sebanyak itu. Padahal, biasanya hanya segelintir yang mau hadir menonton tatkala para petenis Indonesia berlaga melawan petenis-petenis negara lain.

Hal yang menarik lainnya adalah kehadiran penonton yang berasal dari luar DKI Jakarta, misalnya yang datang dari Lampung, Sumatera,  Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka datang cuma ingin melihat para kreator olahraga Indonesia dari cabang tenis melawan Filipina. Mereka tidak peduli sengatan teriknya matahari. Mereka Cuma butuh tontonan dan hiburan gratis.

“Saya datang dari Lampung tadi malam. Saya menginap di rumah kakak di kawasan Patal Senayan, Jakarta. Saya ingin menonton langsung para petenis Indonesia yang berlaga di event Piala Davis Cup. Saya cukup terhibur dan puas, meski Indonesia kalah 1-4 dari Filipina. Kita harus akui lawan lebih bagus,” ujar Susanto, asal Bandar Lampung.

Ungkapan yang sama juga dilontarkan Fransisca Angela. Wanita asal Solo ini jauh-jauh datang dari asal daerah Presiden Joko Widodo karena ingin melihat David Agung Susanto bertanding.

“Kata orang dia mainnya bagus. Dia idola saya. Benar juga ketika melawan  Jason Patrombon. Sayang meski dia menang Indonesa, akhirnya harus kalah. Tapi, tidak apa-apa. Mereka harus berlatih lebih banyak. Filipina memang bagus. Apalagi, saya dengar mereka banyak berlatih dan bertanding di luar negeri,” tutur Fransisca.

Ketua Umum PB Pelti Rildo Ananda Anwar pun angkat bicara soal kehadiran penonton. Menurutnya, kehadiran ribuan penonton sudah merupakan catatan sendiri. Sebab, kata Rildo, jarang-jarang orang mau datang dan menonton tenis apalagi dari luar DKI Jakarta. Cuma orang tertentu saja yang mau datang, kata Rildo.

“Kehadiran penonton sudah melampaui target yang kita harapkan. Awalnya, kita pikir hadir sekitar 500 penonton. Eh gak tahunya mencapai angka sekitar 1.800 penonton. Ini cukup bagus. Artinya, olahraga tenis kembali bergairah dan penonton sudah mau hadir. Biasanya kan yang ramai pada saat pertandingan sepakbola dan bulutangkis,” kata Rildo.

Kehadiran penonton seperti ini, ujar Rildo, harus tetap kita pelihara agar tenis Indonesia bisa mengalami kemajuan. “Kalau penonton sepi, maka pemain-pemain kita sepertinya semangatnya menurun. Tapi, dengan kehadiran penonton bisa menambah semangat bertanding,” tambah Rildo.

Apapun, memang kehadiran penonton menjadi nilai tambah dari sebuah pertandingan, apalagi bagi tuan rumah. Namun, sayang Indonesia harus takluk dari Filipina yang tampaknya tidak terpengaruhi penonton Indonesia.

Sebagai sebuah langkah pembinaan, memang kelak penonton harus lebih banyak dihadirkan dengan berbagai cara, salah satunya lewat pemberitaan, sosial media, dan media elektronik agar olahraga tenis Indonesia selangkah lebih baik.

Bagaimanapun kehadiran penonton yang membludak bisa membuat prestasi meledak.  Apalagi, umumnya mereka hadir untuk mendukung tuan rumah. Nasib baik memang belum membungkus tim Davis Indonesia, tapi paling tidak dukungan moril penonton bisa menjadi penyemangat tenis Indonesia kelak agar lebih bergairah lagi.  Joko Hambardin


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.