Selasa, 06 Februari 2018 - 13:30:20 WIB
Para Petenis Harus Berlatih ke Luar Negeri dan Perbanyak Jam Terbang Kategori: Laporan Khusus - Dibaca: 411 kali


Baca Juga:

JAKARTA -  Tim Davis Indonesia memang kalah 1-4 dari Filipina di pentas Piala Davis Grup II Asia/Oceania yang digelar di Stadion Tenis, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, pekan lalu.

Pada pertandingan pertama, Sabtu (3/2/2018), M Althaf Dhaifullah takluk di tangan pemain tunggal pertama Filipina, Alberto Lim 3-6, 2-6. Tapi, asa Indonesia terbuka lebar, usai David Agung Susanto menyamakan keadaan 1-1, berkat kemenangan yang ditangguk atas Jeson Patrombon 6-2, 7-5.

Namun, sayang di hari kedua, Minggu (4/2/2018), seluruh petenis Indonesia tak berdaya menghadapi lawan-lawannya. Bertarung di Komplek Tenis Gelora Bung Karno, partai pembuka diawali dengan pertarungan Justin Barki/David Agung Susanto melawan  Alcantara/Jurence Zosimo Mendoza. Sayang, pasangan ganda Indonesia tersebut menyerah 6-7 (5-7), 3-6.

Partai kedua dilakoni David Agung Susanto melawan tungal utama Filipina Alberto Lim. David Agung menyerah dua game 3-6, 4-6. Pada terakhir atau laga kelima, yang sudah tidak mempengaruhi lagi, karena Indonesia sudah tertinggal 1-3 dari Filipina, Anthony Susanto kembali menelan kekalahan dari John Bryan Decasa Otico 3-6, 3-6. Dengan demikian score akhir Indonesia versus Filipina 1-4.

Indonesia memang kalah. Tapi, kita tidak boleh larut dalam kepedihan dan duka. Justru Indonesia harus bangkit. Ingat kegagalan atau kekalahan adalah sukses yang tertunda. Materi pemain kita masih muda-muda. Asa mereka pun masih panjang. Kesempatan emas meraih sukses masih terbuka lebar.

Para pemain kita yang terdiri dari M Althaf Dhaifullah, David Agung Susanto, Justin Barki,  dan Anthony Susanto masih tergolong muda belia dan punya prospek yang mumpuni. Artinya, ini peluang Indonesia memoles pemain kita matang dua hingga tiga tahun ke depan. Jam terbang mereka perlu ditambah. Mereka perlu dibina di luar negeri atau di Amerika Serikat atau bahkan di belahan Eropa.  Seperti pola pembinaan yang dilakukan Filipina.

Ketua Umum PB Pelti Rildo Ananda Anwar, langsung angkat bicara menyikapi kekalahan yang diterima dari Filipina. Ia pun dengan lantang dan tegas mengatakan, dirinyalah yang bertanggung jawab atas kekalahan ini. Padahal, kalau mau jujur, ya pengurus PB Pelti sebelumnya. Sebab, Rildo belumlah genap sebulan memimpin olahraga tenis lapangan ini.

“Kita harus akui bahwa Filipina di atas para pemain kita. Mereka begitu matang dan piawai. Mereka bisa menerapkan teknik bermain yang bagus, apik, dan penempatan bola yang sulit dijangkau lawan. Masuk di akal memang karena rata-rata pemain Filipina itu berlatih dan bertanding di luar Filipina, seperti misalnya di Amerika Serikat. Selain itu, kehebatan lain yang diperagakan pemain-pemain Filipina, mereka adalah pemain profesional,” ungkap Rildo kepada wartawan termasuk Investigasibrief.com usai pertandingan di hari terakhir, Minggu (4/2/2018).

Rildo bahkan, tak segan-segan menyebutkan kalau pemain Filipina sudah hapal betul karakter pemain Indonesia. Selain itu, kata Rildo, Filipina sudah bisa menentukan mana pemain tunggal dan pemain ganda. Jadi, mereka tidak rangkap ketika bermain. Main di tunggal dan di ganda.

“Tidak seperti kita, ya main di tunggal dan main juga di ganda. Ini sebenarnya tidak boleh terjadi. Kita harus fokus kalau main di tunggal ya di tunggal saja, jangan kemudian main di ganda. Harus jujur saya katakan kita memang kekurangan pemain di sektor ganda. Ke depan harus kita perbaiki,” ujar Rildo.

Pria yang memakai kacamata itu, menambahkan, belajar dari kekalahan ini, PB Pelti harus bangkit dan menata kembali pembinaan dengan stok pemain muda. Setuju! Untuk bangkit dan menoreh prestasi ke depan memang butuh waktu. Paling tidak dua atau tiga tahun ke depan. PB Pelti harus memanfaatkan pemain-pemain yang ada ditambah beberapa pemain berikutnya.

Para pemain, seperti M Althaf Dhaifullah, David Agung Susanto, Justin Barki,  dan Anthony Susanto, perlu dipoles dan dibina secara berkelanjutan. Beri mereka kesempatan berlatih dan bertanding ke luar negeri. Benua Amerika dan Eropa bisa menjadi sasaran untuk pembinaan guna menambah jam terbang berlatih dan bertanding. Sekaligus bisa dimanfaatkan menambah poin dan memperbaiki peringkat di ITF.

PB Pelti tidak perlu malu meniru gaya pola pembinaan yang dilakukan Filipina dan Thailand, terakhir sukses mengalahlan Srilanka 3-2 di Piala Davis Grup II Asia/Oceania, dengan mengirim para petenisnya berlatih di luar negeri. Logikanya, semakin banyak pertandingan diikuti, apalagi turnamen yang berkelas, maka akan semakin bertambah jam terbang pemain. Selain itu, para pemain akan semakin matang dengan memiliki kepercayaan yang begitu tinggi.

Mengapa para petenis pecahan Uni Soviet atau negara belahan Eropa Timur bisa maju pesat? Sebab, mereka hidupnya di luar negeri. Bukan di negaranya. Pola pembinaan yang mereka lakukan dengan menerapkan para atlet melanglangbuana, baik dengan biaya sendiri dan dibiayai oleh negaranya, inilah yang menjadi kunci kenapa para petenis Eropa Timur bisa berjaya di pentas dunia.

Sebenarnya, Indonesia punya kesempatan yang sama. Cuma persoalannya berkaitan dengan anggaran. Tapi, dengan komitmen yang tinggi dari Ketua Umum PB Pelti Rildo Ananda Anwar, bahwa pemain harus dibina dengan mengirim ke luar negeri, langkah ini harus diacungi jempol.

Semangat yang begitu besar dari seorang Rildo dan pengurus PB Pelti lainnya, agar kelak Indonesia dua atau tiga tahun mendatang bisa menorehkan prestasi pentas dunia, bukan tidak mungkin tercapai. Memang masih jauh. Tapi, paling tidak sebuah angan-angan akan tercapai ketika sudah terlaksana. Persoalannya tinggal menunggu waktu. Sementara kemauan dan keuangan sudah mendukung.

Sekali lagi, kinilah saat olahraga tenis Indonesia beranjak dari keterpurukan. Masih banyak waktu yang tersisa. Kita tidak perlu malu belajar dari kekalahan untuk bangkit. Kita bisa. Ayo tenis Indonesia bangkit dan maju! Joko Hambardin

 

 

 


0 Komentar Pembaca















Isi Komentar:

Nama:
Website:
Komentar:
 
 Masukkan 6 kode di atas.